Jumat, 28 Mei 2010

ya Tuhan, sebegini sakitnya.

Ini bukan film yang mudah ditebak, ini juga bukan novel yang endingnya bisa di baca. Ini baru namanya hidup, semua serba tak terduga.


Ya, siapa yang bakal ngira. Tapi sudah terlanjur menjadi lebur. Rasanya sakit, tak tau harus berbuat apa. Semua jadi gelap, tak ada cahaya. Besok rasanya menakutkan melewati malam panjang menerjang. Rasanya kaya mati lampu berkepanjangan. Tapi lampu itu ga akan nyala, seakan tersesat dalam gelap. Lorong ini ga berujung, serasa percuma berlari terus. Lukanya makin dalam sementara keadaan semakin gawat. Tangisan serasa percuma, air mata tak berguna. Semua ga akan kembali seperti semula, benar-benar keluar dari yang diharapkan. Ga ada rencana tapi terjadi, siapa yang ngira ? Tidak ada. Ini adalah sebuah akhir, tapi sebuah awal dari perjalanan berikutnya. Terlalu lelah untuk mencari kembali. Hanya pasrah tindakan terbaik. Ya, serahkan saja pada Tuhan, biar Tuhan yang mengatur. Hanya bisa menunggu kebahagiaan datang, lama tapi pasti. Harus diyakini dengan ikhlas. Saat itu akan tiba, dimana saya, kamu, dia, mereka akan bahagia sendiri sendiri. Benar saja, biar waktu yang menjawab. Saya menyerah mulai sekarang, dalam balutan air mata. Ya, sudah selesai dengan kamu. Sudah cukup. Tangisan terakhir berlaku selamanya hingga luka ini mengecil lalu hilang. Hingga tangisan berhenti, senyuman akan datang. Rentangkan tangan untuk menyambut yang baru. ya lambat laun pasti terjadi.Ini kisah saya yang kasihnya tak terbalas. Bukan salah dia, ini salah saya sepenuhnya. Berani beraninya menambatkan hati tak tau resiko. ya, ini benar salah saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar